Fisika merupakan bagian ilmu yang mempelajari dalam IPA, yaitu ilmu mempelajari tentang alam. Banyak berpendapat bahwa fisika merupakan ilmu sulit. Padahal penerapan ilmu fisika terdapat dalam kehidupan ini, misalnya ketika kita melihat awan, pernahkah kita berfikir kenapa awan itu terbentuk? Disini diperlukan ilmu fisika dan ilmu yang mempelajari hal tersebut adalah klimatologi yakni ilmu yang mempelajari tentang kondisi cuaca tepatnya bagian atmosfer.
Awan terbentuk dari kondensasi dari uap air diatas permukaan bumi. Analoginya ketika kita memasak air pasti ada uap. Udara yang mengalami kenaikan akan mengembang secara adiabatic karena tekanan udara diatas lebih kecil dari pada tekanan dibawah. Selanjutnya aerosol ini terangkat ke atmosfer, dan bila sejumlah besar udara terangkat ke lapisan yang tinggi dan mengalami pendinginan dan selanjutnya mengmbun. Makin banyak udara yang terbentuk makin besar awan yang terbentuk.
Awan merupakan bagian dari atmosfer. Banyak diketahui fungsi awan salah satunya melindungi kita dari radiasi matahari dengan mengubah tingkat panjang gelombang elektromagnetiknya dari kecil menjadi besar serta menguraikannya. Namun di beberapa tempat ada awan yang tidak melindungi bumi dikarenakan efek global warming. Ada juga awan yang membahayakan bagi kehidupan yaitu awan yang berpotensi mendatangkan badai salah satunya awan cummolonimbus. Berikut penampakan awan cummolonimbus
Awan cummolonimbus merupakan salah satu awan vertical yang tingginya 60 ribu kaki atau sekitar 18 km lebih. Kumulonimbus berasal dari bahasa Latin, "cumulus" berarti terakumulasi dan "nimbus" berarti hujan. Ciri-ciri awan ini berbentuk padat, badai petir, dan cucanya yang dingin. Awan cummolonimbus juga membahayakan penerbangan karena turbulensinya yang dahsyat sehingga awan ini disebut CB. Bahkan awan CB penyebab jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 di Selat Karimata, 29 Desember 2014 lalu. Bagi penerbangan ada beberapa teknik pendeteksian awan ini salah satu contohnya menggunakan ilmu fisika yaitu karena awan mempunyai gelombang elektromagnetik. Setiap awan pasti memiliki muatan positif ataupun negative buktinya adanya kilat dan petir. Muatan-muatan negative berpindah ke muatan positif pada Kristal awan yang bergeser maka terjadilah loncatan electron dan menimbulkan kilat atau petir. Menurut Oersted ditahun 1820 arus listrik dapat mempengaruhi jarum kompas (elektromagnetik hal 293). Ini membuktikan bahwa disekitar arus terdapat medan magnet. Interaksi antara medan magnet dengan medan listrik akan menimbulkan gelombang elektromagnetik yang dinyatakan oleh Maxwell. Kajian Maxwell tentang gelombang elektromagnetik adalah bagaimana hubungan medan listrik dengan medan magnet yang diungkapkan oleh empat buah persamaan Maxwell. Gelombang elektromagnetik memancar pada kecepatan cahaya, maka dari itu cahaya merupakan bentuk gelombang elektromagnetik. Bentuk lainya juga terdapat pada kilat atau petir yang menghasilkan cahaya.
Awan terbentuk dari kondensasi dari uap air diatas permukaan bumi. Analoginya ketika kita memasak air pasti ada uap. Udara yang mengalami kenaikan akan mengembang secara adiabatic karena tekanan udara diatas lebih kecil dari pada tekanan dibawah. Selanjutnya aerosol ini terangkat ke atmosfer, dan bila sejumlah besar udara terangkat ke lapisan yang tinggi dan mengalami pendinginan dan selanjutnya mengmbun. Makin banyak udara yang terbentuk makin besar awan yang terbentuk.
Awan merupakan bagian dari atmosfer. Banyak diketahui fungsi awan salah satunya melindungi kita dari radiasi matahari dengan mengubah tingkat panjang gelombang elektromagnetiknya dari kecil menjadi besar serta menguraikannya. Namun di beberapa tempat ada awan yang tidak melindungi bumi dikarenakan efek global warming. Ada juga awan yang membahayakan bagi kehidupan yaitu awan yang berpotensi mendatangkan badai salah satunya awan cummolonimbus. Berikut penampakan awan cummolonimbus
Awan cummolonimbus merupakan salah satu awan vertical yang tingginya 60 ribu kaki atau sekitar 18 km lebih. Kumulonimbus berasal dari bahasa Latin, "cumulus" berarti terakumulasi dan "nimbus" berarti hujan. Ciri-ciri awan ini berbentuk padat, badai petir, dan cucanya yang dingin. Awan cummolonimbus juga membahayakan penerbangan karena turbulensinya yang dahsyat sehingga awan ini disebut CB. Bahkan awan CB penyebab jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 di Selat Karimata, 29 Desember 2014 lalu. Bagi penerbangan ada beberapa teknik pendeteksian awan ini salah satu contohnya menggunakan ilmu fisika yaitu karena awan mempunyai gelombang elektromagnetik. Setiap awan pasti memiliki muatan positif ataupun negative buktinya adanya kilat dan petir. Muatan-muatan negative berpindah ke muatan positif pada Kristal awan yang bergeser maka terjadilah loncatan electron dan menimbulkan kilat atau petir. Menurut Oersted ditahun 1820 arus listrik dapat mempengaruhi jarum kompas (elektromagnetik hal 293). Ini membuktikan bahwa disekitar arus terdapat medan magnet. Interaksi antara medan magnet dengan medan listrik akan menimbulkan gelombang elektromagnetik yang dinyatakan oleh Maxwell. Kajian Maxwell tentang gelombang elektromagnetik adalah bagaimana hubungan medan listrik dengan medan magnet yang diungkapkan oleh empat buah persamaan Maxwell. Gelombang elektromagnetik memancar pada kecepatan cahaya, maka dari itu cahaya merupakan bentuk gelombang elektromagnetik. Bentuk lainya juga terdapat pada kilat atau petir yang menghasilkan cahaya.
Gelombang elektromagnetik adalah gelombang transversal yang merambat kearah sumbu x terdiri dari osilasi medan listrik E dan medan magnet B yang saling tegak lurus dan berubah secara periodic. Cahaya matahari memiliki bentuk gelombang gabungan medan magnet dengan medan listrik merupakan gelombang elektromagnetik. Cahaya matahari diserap dan dihamburkan oleh awan dan sampai ke bumi. Teknik ini dimanfaatkan untuk penginderaan jarak jauh atau remote sensing. Remote sensing merupakan suatu ilmu dan seni untuk memperoleh data dan informasi dari suatu objek dipermukaan bumi dengan menggunakan alat yang tidak berhubungan langsung dengan objek yang dikajinya (Lillesand dan Kiefer,1979). Awan Cumolonimbus yang memiliki muatan petir dan memiliki gelombang elektromagnetik dapat dideteksi oleh sensor di letakkan di radar pesawat dengan menggunakan teknik remote sensing. Pancaran gelombang elektromagnetik dari petir dapat di deteksi oleh sensor.




1 comment