klGFP2aLxdwXCjVsO28pHXU0nj1s47tNO61UU8Ji
Selamat Datang Di website Batangkayu, pokok pembahasan web ini adalah Pendidikan, Science, dan Moral/Kharakter
klGFP2aLxdwXCjVsO28pHXU0nj1s47tNO61UU8Ji
Bookmark

Inilah yang membuat Bauksit bewarna merah?

Didalam pelajaran kimia kita telah mempelajari begitu banyak unsur yang berada didalam tabel periodik. Semua yang ada di alam ini merupakan tersusun dari unsur-unsur tersebut seperti batuan, mineral, gas dan sebagainya.
Batuan merupakan susunan dari beberapa mineral, dan unsur tambahan lainnya misalnya adalah bauksit. Bauksit adalah sejenis batuan yang bukan termasuk mineral, mengandung aluminium hidroksida (bohmit, gibsit) dan mineral (goetit, kaolini, rutil, serta hematit). Bauksit merupakan biji utama dalam menghasilkan aluminium (Al).

Pembentukan Bauksit

Bauksit terbentuk dari sedimentasi dan pemampatan (kompresi) dari batu-batuan yang memakan waktu berjuta-juta tahun yang lalu. Pembentukan tersebut dicampur dengan elemen pengeringan (dehidrasi) dengan suhu yang beegitu panas.

Bauksit biasanya ditemukan didaerah yang kandungan tanahnya banyak ketimbang pada daerah minyak dan gas, sama halnya penemuan biji besi dan timah bauksit juga membutuhkan penggalian yang sangat dalam demi menemukan bijinya. Kebanyakan dari bauksit dugunakan orang dalam produksi keramik, mesin kendaraan terutama pada badan pesawat, kemasan kaleng, dan konstruksi bangunan.
Bauksit juga digunakan dalam peralatan dapur karena sifatnya yang ringan dan tahan terhadap suhu yang tinggi selain itu pada laboratorium kimi dimanfaatkan dalam memusahkan minyak, gas nitrogen, dan sulfur.

Tahukah anda kenapa warna bauksit itu bewarna merah?

Seperti penjelasan tadi bauksit itu mengandung gibsit [Al(OH)3], diaspor [HAl2O3], dan bohmit [AlO(OH)]  yang selanjutnya akan diekstrak aluminiumnya dalam penggunaan komersil. Menurut Bapak Prof Dr Hamzah yang merupakan seorang pakar Geologi di USM Pulau Pinang ketiga mineral penyusun bauksit yang kaya dengan logam aluminium sebenarnya bewarna putih, akan tetapi adanya mineral lain yang ada pada bauksit tersebut.

Mineral tersebut adalah hematit [Fe2O3] dan goetit [Fe2O3.H2O]. Kandungan logam besi pada Fe2O3 inilah yang mengakibatkan Bauksit bewarna merah. Beliau menambahkan bahwa Bauksit ditambang secara besar-besaran di lima negara yaitu Brazi, Yunani, India, dan Indonesia. Penambangan tersebut menemukan kandungan hematit sebesar 10% dan geotit 5 %.

Pemanfaatan Bauksit sebagai Aluminium

Penemuan pertama kali Bauksit adalah pada daerah Baux pada tahun 1821, kemudian diberikan nama awalnya. Bauksit mempunyai kandungan aluminium yang tinggi dan merupakan bahan utama dalam memproduksi logam ini. Produksi Aluminium dengan bauksit memerlukan dua tahap yaitu sebagai berikut ini:

1. Bayer 
Tahap pertama adalah proses Bayer, yang mana biji bauksit akan dilakukan pemurnian dalam menghasilkan aluminium oksida atau dapat juga disebut alumina. Biji bauksit terdapat 50% sampai 60% Al2O3 bercampur denganzat pengotor seperti Fe2O3 dan SiO2. Untuk memisahkan zat tersebut maka diperlukan sifat amfoter dari Al2O3. Memisahkanya dapat dilakukan dengan melarutkan bauksit dengan natrium hidroksida pekat (NaOH) dan membentuk senyawa berikut ini
Al2O3 (s) + 2NaOH (aq) + 3H2O(l) ---> 2NaAl(OH)4(aq)
Hasil akhirnya adalah larutnya logam aluminium bersama lartutan tadi sehingga zat pengotor dapat terpisah dari logam Al. Pemisahan tersebut dapat pula dilakukan dengan penyaringan. Langkah selanjutnya adalah pengendapan logam aluminium dengan mengalirkan gas CO2 lalu pengenceran dan mengalami reaksi sebagai berikut:
2NaAl(OH)4(aq) + CO2(g) ---> 2Al(OH)3(s) + Na2CO3(aq) + H2O(l)
Endapan dari Al diatas akan disaring lagi lalu dikeringkan sehingga diperoleh alumina atau aluminium oksida murni (Al2O3)
2Al(OH)3(s) ---> Al2O3(s) + 3H2O(g)

2. Hall-Heroult
Proses kedua yaitu Hall-Heroult, yang mana alumina tadi akan di leburkan untuk menghasilkan aluminium murni dan siap untuk digunakan untuk keperluan komersil. Peleburan alumina menggunakan proses reduksi dari proses elektrolisis dan disebut dengan proses Hall-Heroult. Pada proses ini Alumina  akan dilarutkan kedalam lelehan kriolit  (Na3AlF6) di suatu bejana yang berlapis grafit yang fungsinya adalah sebagai katoda. Proses elektrolisis akan dilakukan pada suhu 950 derajat Celcius.

Proses  Hall-Heroult

Pencampuran Al2O3 dengan krilit tadi berfungsi untuk menurunkan titik lebur dari Al2O3 sehingga mencapai 2000 derajat Celcius dan akan melebur pada suhu 850 - 950 derajat Celcius dengan katoda dan anodanya adalah batang grafit lalu membentuk reaksi berikut
Al2O3 (l) 2Al3+ (l) + 3O2- (l)

Anode (+): 3O2- (l) 3/2 O2 (g) + 6e−

Katode (-): 2Al3+ (l) + 6e- 2Al (l)

Reaksi sel: 2Al3+ (l) + 3O2- (l) 2Al (l) + 3/2 O2 (g)
(sumber reaksi : wikipedia)

Berdasarkan reaksi tersebut maka terciptalah logam aluminium Al.
Penambangan dari bauksit dapat membuat kerusakan pada hutan karena batuan ini banyak terdapat di daerah hutan biomas dan terletak pada lapisan datar dan dibawah permukaan tanah. Fisik dari bauksit sendiri adalah lunak dan ringan serta memiliki massa jenis antara 2,3 sampai 2,7 gr/cm3. Hal tersebutlah yang membuat bauksit tidak mencair dengan air dan mudah patah.

Bauksit sangat mudah ditemukan pada daerah-daerah tropis di garis Khatulistiwa seperti Indonesia yang mana kita memiliki endapan bauksit yang melimpah yang tersebar di seluruh wilayah. Pada daerah tertentu di Indonesia mudah mendapatkan bauksit seperti Kota Pinang (Sumut), Pulau Bulan dan Pulau Bintan (Kepri), Sandai, Pantus, Munggu besar (Kalbar) dan daerah Bangka belitung yaitu sigembir.

Sumber pendukung : Majalah Sains, Wikipedia
1 comment

1 comment

  • rahfiqa
    rahfiqa
    January 3, 2017 at 6:32 AM
    Iya makasih sipilplin ...webnya jga banyak informasinya nanti kapan2 saya ambil referensi dari sana jga
    Reply