klGFP2aLxdwXCjVsO28pHXU0nj1s47tNO61UU8Ji
Selamat Datang Di website Batangkayu, pokok pembahasan web ini adalah Pendidikan, Science, dan Moral/Kharakter
klGFP2aLxdwXCjVsO28pHXU0nj1s47tNO61UU8Ji
Bookmark

Arti sebuah kejujuran “dia tidak dapat berjalan, tidak melihat, dan tidak dapat mendengar”


Pada suatu saat saya mendengar cerita dari sudara saya yang mengenai arti sebuah kejujuran. Kami memang bukan saudara kandung, namun tetap saling berbagi nasehat seperti katanya “aku menasehatimu supaya nanti kamu juga dapat menasehatiku ketika aku berbuat salah atau lupa”. Dia melanjutkan ceritanya bahwa pada suatu hari ada seorang pemuda yang sangat kelaparan, dia berjalan kearah pinggiran sungai dan berhenti di bawah batang kayu rindang sambil beristirahat. Sambil duduk dia melihat sebuah mangga yang dihanyutkan air sungai, dengan gembira dia menjangkau mangga tersebut lalu mengambilnya kemudian memakanya. Setelah menyantab mangga tadi dia merasa ada yang terasa sakit pada perutnya. Lalu dia memikirkan mungkin karna mangga yang aku makan ini punya pemiliknya dan aku memakanya tanpa memintanya terlebih dahulu. Setelah membulatkan hati sang pemuda ini pergi dari tempatnya menyelusuri sungai kearah batang mangga ini berada.

Setelah berjalan jauh di tepian sungai nampaklah sebuah batang mangga yang berbuah lebat dan tak jauh dari batang mangga tersebut ada sebuah rumah sederhana. Kemuadian pemuda itu pergi kerumah tersebut “mungkin pemilik batang mangga ini berada di rumah itu”. Dia mendekati rumah tersebut lalu mengetuk pintu rumah

Tuk…tuk….tuk...tuk…asalamualaikum…

Kemudian pemilik rumah membuka pintu “walaikumsalam maaf anda siapa yaa? Kata pemilik rumah
Lalu pemuda tadi memperkenalkan dirinya dan menanyakan siapa pemilik batang mangga di tepi sungai tadi

“maaf pak saya mau bertanya apakah bapak yang mempunyai batang mangga itu?” kata sang pemuda.
“ooh batang mangga itu, pemiliknya ada tiga orang dan saya salah satunya, dua orang lagi adalah saudara saya ismail dan ahmad.” Jawab salah satu pemilik mangga
“begini pak tadi saya sangat kelaparan di tepi sungai yang jauh di sana lalu mendapatkan buah mangga bapak yang hanyut dan saya memakanya tanpa memikirkan siapa pemiliknya terlebih dahulu. Setelah itu saya teringat pemiliknya dan menyelusuri sungai itu, kalau boleh tau bagaimana saya seharusnya menebus buah mangga bapak itu.” Kata sang pemuda. Kemudian pemilik pertama mangga itu berpikir dan berkata “kalau begitu anda cukup membantu saya dalam menangkap ikan di belakang rumah saya ini, ikannya banyak dan saya mau menjualnya nanti.”
“baiklah bapak saya akan mengerjakannya.” Kata pemuda itu

Hari berikutnya sang pemuda membantu pemilik pertama buah mangga tadi sampai ikan mendapatkan ikan yang banyak. Setelah selesai bekerja menangkap ikan pemilik buah mangga menunjukan lokasi saudara-saudaranya kepada sang pemuda. Sang pemuda minta pamit pada pemilik buah mangga “ Terima kasih kerelaan bapak atas buah mangga yang hanyut itu”. Kata sang pemuda.

Kemudian pemuda mencari pemilik kedua dari batang mangga yang ia makan. Setelah mendapatkan rumahnya sang pemuda langsung mengetuk sebuah rumah yang berada di tepian sawah.
Tuk…tuk…tuk….asalamualaikum….
Lalu terbukalah pintu rumah tersebut “walaikumsalam”. Jawab sang pemilik rumah tersebut
Kemudian sang pemuda langsung bertanya “apakah ini dengan bapak Ismail?”
“Iya saya sendiri”. Kata bapak Ismail sang pemilik kedua batang mangga.

Kemudian sang pemuda menceritakan keadaan dia mendapatkan buah mangga.
“Bagaimana cara saya untuk menebus buah mangga bapak itu” tanyanya kepada bapak Ismail
“oh jadi begitu yaa memang sih buah mangga itu pemiliknya kami bertiga bersaudara.. begini saja nak, bagaimana kamu membantu saya dalam membuat kandang ayam disamping rumah saya, karna saya tidak mempunyai uang untuk membayar orang.” Jawab pak Ismail
“baiklah pak saya akan mengerjakannya.”kata sang pemuda

Butuh dua hari mereka mengerjakan kandang ayam sampai selesai. Kemudian setelah selesai mengerjakanya pemilik kedua mangga ini memberikan 4 butir telur ayam buat perjalanan pemda tersebut. “terimakasih banyak atas kerelaan bapak terhadap buah mangga yang saya makan itu dan juga telur yang bapak berikan ini” ucap sang pemuda. Setelah itu sang pemuda mencari orang ketiga pemilik buah mangga yang dia makan dulu. Dia berjalan selama sehari penuh lalu menemukan sebuah rumah di batas suatu desa.
“Tuk…tuk…tuk… asalamulaikum” dia mengetuk pemilik ketiga rumah mangga
“Walaikumsalam… ada apa yaa?” kata pemilik rumah

“maaf apakah ini bapak Ahmad pemilik buah mangga yang barada dipinggiran sungai?” Tanya sang pemuda. Lalu bapak tadi menjawab “oh batang mangga itu yaa…memang saya pemilik ketiganya karna batang mangga itu adalah salah satu warisan dari mendiang bapak saya.” Setelah itu sang pemuda menceritakan kisahnya. Kemudian dia bertanya “Maaf sekiranya saya lancang mengambil buah mangga bapak tanpa memintanya terlebih dahulu, bagaimana saya seharusnya menebus buah mangga yang saya makan tersebut?

“mmm begitu yaa….kamu juga telah meminta izin kepada saudara-saudara saya, dan membantu mereka dalam usaha mereka. Begini maukah kamu menikahi putri saya satu-satunya yang mana dia tidak dapat berjalan, tidak dapat mendengar, dan tidak dapat melihat barulah saya dapat merelakan buah mangga itu?

Jawaban pemilik buah mangga itu sempat membuat sang pemuda berpikir dan pada akhirnya dia memutuskanya “Baiklah pak jika bapak merelakan buah mangga yang saya makan itu apapun akan saya lakukan untuk menebusnya”.

Kemudian sang pemuda memenuhi keinginan bapak pemillik buah mangga yaitu menikahi putrinya. Di saat akad nikah dimulai sang pemilik buh mangga memanggil putrinya dan keluarlah seorang perempuan yang cantik jelita dengan mata yang indah tanpa cacat sedikitpun, lalu mendekati sang pemuda tadi. Melihat perempuan tersebut sang pemuda sangat terkejut lalu bertanya kepada bapak pemilik batang mangga “Maaf pak…dia bukan calon istri saya, karena dia tidak lumpuh, tidak buta, dan tidak tuli.”

Kemudian bapak pemilik buah mangga menjelaskan semuanya ”Begini nak, dia memang putri saya satu-satunya tidak dapat berjalan maksudnya dia tidak pernah berjalan ketempat yang buruk-buruk, tidak melihat artinya dia tidak pernah melihat yang buruk dan kotor-kotor, dan begitupun dengan tidak dapat mendengar bahwa dia tidak pernah mendengar hal-hal jelek-jelek.”
Lalu sang pemuda terdiam dan bertanya “kenapa saya mendapatkan hal yang demikian hanya karena saya kelaparan?”

“Saya hanya dapat menghargai kejujuran anda, karena belum pernah saya medapatkan orang seperti kamu di dunia ini. Kejujuranlah yang selama ini saya cari untuk calon suami putriku.” Jawab pemilik buah mangga tersebut.
Setelah itu sang pemuda memenuhi tebusan atas mangga yang dia makan dulu.

Demikianlah cerita dari arti kejujuran, didunia ini sangat jarang sekali kita mendapatkan orang-orang yang jujur. Dari cerita tersebut orang jujur pasti mendapatkan kemuliaan baik didunia ataupun di akhirat karena Dia Maha melihat dan Maha membalas perbuatan.


Terima kasih atas nasehatnya Saudaraku

2 comments

2 comments

  • rahfiqa
    rahfiqa
    October 2, 2017 at 6:35 PM
    terimakasih gan
    Reply
  • Anonymous
    Anonymous
    October 2, 2017 at 8:21 AM
    ceritanya baguss��
    Reply