klGFP2aLxdwXCjVsO28pHXU0nj1s47tNO61UU8Ji
Selamat Datang Di website Batangkayu, pokok pembahasan web ini adalah Pendidikan, Science, dan Moral/Kharakter
klGFP2aLxdwXCjVsO28pHXU0nj1s47tNO61UU8Ji
Bookmark

Pemanfaatan Kulit Ubi Menjadi Biodegradable Plastik


Pada saat ini polimer telah menjadi kebutuhan bagi kehidupan manusia. Setiap kali anda berbelanja kasir selalu memberikan anda polimer yaitu plastik. Plastik telah digunakan untuk berbagai keperluan kita misalnya pada peralatan rumah tangga, mainan anak-anak, alat-alat lstrik, komponen listrik, dan sebagainnya. Plastik yang biasa kita pakai berasal dari sintesis dari polimer hidrokarbon minyak bumi. Hidrokarbon dari minyak bumi ini menghasilkan jenis plastik seperti PP (polipropilena), PS (polisterena), PE (polietilena), PVC (polivinil klorida). Jenis plastik yang demikian jika dibakar maka hanya dapat meleleh setelah dingin maka kembali memadat menjadi plastik (termoplastik).

Pemakaian bahan plastik dalam kehidupan manusia saat ini memiliki dampak negative seperti sampah. Butuh waktu yang sangat lama untuk sampah plastik agar dapat terurai di bumi walaupun telah tertimbun tanah. Seiring berjalanya waktu sampah pastik akan mengakibatkan pencemaran dan kerusakan bagi lingkungan hidup. Berdasarkan hal tersebut maka dilakukanlah berbagai cara untuk mengurangi polusi polimer ini. Usaha yang pernah dilakukan adalah dengan cara mendaur ulang plastik atau yang lagi hits sekarang adalah dengan cara membuat plastik ramah lingkungan (biodegradable)

Biodegradable merupakan plastik yang dapat terurai disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme pengurai. Kegunaan plastik ramah lingkungan hampir sama dengan plastik konvensional ataupun plastik sintesis. Plastik ramah lingkungan juga biasa disebut dengan bioplastik artinya seluruh komponen penyusunya terbuat dari bahan baku yang dapat diperbaharui kembali. Karakteristik utama dari plastik ramah lingkungan adalah dapat kembali ke alam. Kemasan yang berasal dari biodegradable pada umumnya dapat diaur ulang dan hancur secara alami karena apabila berada dialam maka akan terjadi perubahan struktur kimianya. Bahan dari plastik ramah lingkungan dapat anda jumpai pada ubi yaitu pada bagian kulitnya. Hal ini telah dilakukan penelitian oleh Ita indriana Sri yang mana telah mengembangkan tepung kulit singkong menjadi bahan dasar Biodegradible

Siapa sangka kulit ubi dapat dijadikan manfaat yang besar dalam menangani polusi plastik padahal kita selalu membuangnya setelah pda saat pengolahan ubi. Kulit ubi (Manihot utilissima) adalah suatu limbah pangan dari Negara-negara berkembang seperti negra kita. Kandungan dari kulit ubi atau singkong memungkinkan membuat film plastik biodegradasi
Berikut komponen-komponen kimia dari kulit ubi :
  • Protein 8,11 %
  • Lemak kasar 1,44 %
  • Serat kasar 15,20 %
  • Pektin 0,22 %
  • Karbohidrat 16,72 %,
  • Air 67,74 %
  • Kalsium 0,63 %
  • Abu 1,86%

Sedangkan komponen kimia dan gizi isi singkong (tanpa kulit) untuk 100 g yakni protein 1 g, kalori 154 g, karbohidrat 36,8 g dan lemak 0,1 g. Singkong atau ubi kayu juga mengandung serat, HCN, enzim peroksida, glukosa, kalsium oksalat dan tannin. Agar plastik ramah lingkungan atau biodegradable dapat lebih elastic, fleksibel, dan tahan terhadap maka dalam prosesnya ditambahkan plastikizer (Darni, dkk. 2008).

Menurut Ita plastikizer yang banyak digunakan dalam biodegradable plastik adalah gliserol. Penambahan gliserol pada bahan utama bertujuan dalam memperbaiki sifat fisis, mekanik, serta melindungi plastik dari berbagai mikroorganisme perusak bahan plastik, akan tetapi sifatnya hanya sementara. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mendapatkan gliserol namun Ita menggunakan minyak jelantah dalam mendapatkanya melalui suatu proses yang disebut “transesterifikasi”. Minyak jelantah itu sendiri mengandung asam kaprat 7%, asam kaprilat 8%, asam laurat 48%, asam palmitat 8,8%, asam miristat 17,5%, asam linoleat 2,5%, asam stearat 2%, dan asam oleat 6% (Kirk Othmer, 1951)

Dalam penelitian Ita menggunakan metode penelitian eksperimental. Rancangan lingkungan yang ia gunakan adalah yaitu RAL (Rancangan Acak Lengkap) mengiuti pola faktorial 3 kali ulangan. Penelitian menggunakan 2 faktor. Konsentrasi dari tepung kulit ubi dengan 3 taraf, yaitu 2g (B1), 3g (B2), dan 4g (B3) menjadi factor pertamanya. Faktor keduanya adalah gliserol dari minyak jelantah menggunakan 3 taraf, yaitu 8ml (P1), 9ml (P2), dan 10ml (P3). Data yang akan diperoleh akan diuji perpanjangan putus, ketahanan tarik (elastis) dan organoleptik setelah itu menganalisisnya secara dekriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwasanya ketahanan tarik dari plastik yang tertinggi terdapat pada perlakuan B2P2 senilai 0,97 Kg/cm2. Kemusian perpanjangan putus tertinggi pada plastik perlakuan B1P2 senilai 38,67%. Berdasarkan hasil dari uji organoleptik tekstur yang paling diminati adalah pada perlakuan B1P2

Berdasarkan penelitian tersebut mudah-mudahan bagi pembaca sekalian dapat memanfaatkanya ke tahap yang lebih tinggi atau menerapkanya kepada masyarakat agar kita dapat mengurangi limbah plastik. Demikianlah yang dapat kami sampaikan semoga bermanfaat.

Sumber : Sari, Ita Indriana(2015). Pemanfaatan Tepung Kulit Singkong (Manihot Utilissima) untuk Pembuatan Plastik Ramah Lingkungan (Biodegradable) dengan Penambahan Gliserol dari Minyak Jelantah. Penelitian Jurusan Biologi Universitas Muhamadiyah Surakarta, 3-11



Post a Comment

Post a Comment