Sebelumnya, masyarakat dibuat cemas akan tersebarnya informasi di media sosial yang menyatakan bahwa fenomenal atau peristiwa dari momen equinox bisa menyebabkan terjadinya sun stroke hingga dehidrasi. Padahal, faktanya bukanlah seperti itu, karena hal tersebut merupakan berita hoax yang dipercayai begitu saja.
Lantas, apa sebenarnya fenomena equinox itu?
Berdasarkan informasi yang didapatkan dari LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), equinox merupakan sebuah fenomena astronomi yang terjadi ketika posisi matahari berada tepat di bagian atas garis equator atau garis khatulistiwa, sehingga ketika berlangsungnya peristiwa equinox ini siang – malam mempunyai waktu yang sama, yakni 12 jam di siang hari dan 12 jam di malam hari.
Fenomena equinox ini terjadi dalam waktu yang periodik, karena akan berlangsung selama dua kali dalam setahun, yakni sehari di musim semi dan sehari di musim gugur (pada tanggal 21 Maret 2019 dan pada tanggal 23 september 2019).
Peristiwa equinox yang berlangsung pada bulan Maret merupakan sebuah penanda awal musim gugur di belahan bumi bagian selatan dan merupakan sebuah penanda awal musim semi di belahan bumi bagian utara. Sementara, peristiwa equinox yang berlangsung pada bulan September adalah sebaliknya, karena merupakan sebuah tanda terjadinya musim semi di bagian bumi bagian selatan dan musim gugur di bagian bumi utara.
Di negara Indonesia, pada saat berlangsungnya moment equinox bulan Maret, maka wilayah yang berada tepat garis ekuator / khatulistiwa (Bonjol, Pontianak, Sumatra Barat dan Kalimantan Barat) akan mengalami proses transit dan kulminasi. Yang mana, ketika tengah hari matahari akan melintas tepat di atas kepala.
Lalu, apa saja dampak dari terjadinya peristiwa equinox?
LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) menyebutkan bahwa dari proses kulminasi dari fenomena equinox tidak memberikan dampak yang cukup besar terhadap iklim yang ada di bumi. Sebab, ketika proses kulminasi terjadi, atmosfer bumi akan tetap mengatur temperatur bumi secara dinamis.
Namun kemungkinan besar, masih terdapat dampak kecil yang akan dirasakan dari adanya peristiwa equinox ini, yakni dapat menyebabkan terjadinya sun outage terhadap satelit komunikasi, sehingga pada saat itu wilayah Indonesia tidak dapat menerima sinyal dengan baik dalam waktu sekitar 10 menit.
Kendati demikian, dampak atau efek dari kejadian peristiwa momen equinox tersebut tidak akan dirasakan merata oleh masyarakat Indonesia, karena efeknya hanya akan terjadi pada wilayah yang berada tepat pada garis equator / khatulistiwa.
Jadi, apa yang harus ditakutkan mengenai fenomena equinox ini? Sebab, dampaknya tidak akan menimbulkan sesuatu yang berarti, sehingga kita tidak perlu merasa khawatir dan mencemaskan apapun. Apabila mengetahui informasi serupa, sebaiknya selidiki terlebih dahulu agar tidak menjadi korban dari berita hoax yang beredar luas di masyarakat.
Lantas, apa sebenarnya fenomena equinox itu?
Berdasarkan informasi yang didapatkan dari LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), equinox merupakan sebuah fenomena astronomi yang terjadi ketika posisi matahari berada tepat di bagian atas garis equator atau garis khatulistiwa, sehingga ketika berlangsungnya peristiwa equinox ini siang – malam mempunyai waktu yang sama, yakni 12 jam di siang hari dan 12 jam di malam hari.
Fenomena equinox ini terjadi dalam waktu yang periodik, karena akan berlangsung selama dua kali dalam setahun, yakni sehari di musim semi dan sehari di musim gugur (pada tanggal 21 Maret 2019 dan pada tanggal 23 september 2019).
Peristiwa equinox yang berlangsung pada bulan Maret merupakan sebuah penanda awal musim gugur di belahan bumi bagian selatan dan merupakan sebuah penanda awal musim semi di belahan bumi bagian utara. Sementara, peristiwa equinox yang berlangsung pada bulan September adalah sebaliknya, karena merupakan sebuah tanda terjadinya musim semi di bagian bumi bagian selatan dan musim gugur di bagian bumi utara.
Di negara Indonesia, pada saat berlangsungnya moment equinox bulan Maret, maka wilayah yang berada tepat garis ekuator / khatulistiwa (Bonjol, Pontianak, Sumatra Barat dan Kalimantan Barat) akan mengalami proses transit dan kulminasi. Yang mana, ketika tengah hari matahari akan melintas tepat di atas kepala.
Lalu, apa saja dampak dari terjadinya peristiwa equinox?
LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) menyebutkan bahwa dari proses kulminasi dari fenomena equinox tidak memberikan dampak yang cukup besar terhadap iklim yang ada di bumi. Sebab, ketika proses kulminasi terjadi, atmosfer bumi akan tetap mengatur temperatur bumi secara dinamis.
Namun kemungkinan besar, masih terdapat dampak kecil yang akan dirasakan dari adanya peristiwa equinox ini, yakni dapat menyebabkan terjadinya sun outage terhadap satelit komunikasi, sehingga pada saat itu wilayah Indonesia tidak dapat menerima sinyal dengan baik dalam waktu sekitar 10 menit.
Kendati demikian, dampak atau efek dari kejadian peristiwa momen equinox tersebut tidak akan dirasakan merata oleh masyarakat Indonesia, karena efeknya hanya akan terjadi pada wilayah yang berada tepat pada garis equator / khatulistiwa.
Jadi, apa yang harus ditakutkan mengenai fenomena equinox ini? Sebab, dampaknya tidak akan menimbulkan sesuatu yang berarti, sehingga kita tidak perlu merasa khawatir dan mencemaskan apapun. Apabila mengetahui informasi serupa, sebaiknya selidiki terlebih dahulu agar tidak menjadi korban dari berita hoax yang beredar luas di masyarakat.



Post a Comment